Aksi Peduli dan Berbagi Pesantren Al-Mubin Usung Cahaya Ramadhan 1447 H
/ Jogjawarta
Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat berbagi dan peduli kepada sesama.
PURWOMARTANI, Kalasan | Rupaneka aksi bermanfaat dapat dilakukan ketika bulan suci Ramadhan. Seperti Pesantren Tahfiz Al-Mubin yang menggelar ‘Cahaya Ramadhan’ dengan aksi peduli dan berbagi sembako kepada anak-anak dhuafa dan janda lansia, pada Senin (2/3/2026). Cahaya Ramadhan juga menyuguhkan kajian Ramadhan berlanjut takjil.
Pesantren yang beralamat di Jalan Pringgondani No. 1-3 Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman, tersebut menjadikan momentum bulan Ramadhan 1447 H sebagai sarana penguatan empati kepada sesama.
“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Cahaya Ramadhan adalah ikhtiar kecil kami agar pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat berbagi dan peduli kepada sesama,” ujar Pengasuh dan Pengelola Pesantren Al-Mubin, Ustaz Aam Maulana, dalam sambutannya.
Kegiatan santunan sekarang, sambungnya, adalah santunan yang ketiga kalinya diadakan Pesantren Al-Mubin. Sebelumnya, kegiatan serupa pernah terlaksana pada tahun 2021.Pada bulan Ramadhan 1447 H, kesempatan berbagi itu pun kembali datang.
Ustaz Aam, demikian ia karib dipanggil, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para hadirin dan menjadi kebahagiaan dan kehormatan bagi Pesantren Al-Mubin. Ia berharap doa terbaik agar Al-Mubin bisa terus istiqamah dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Alumnus Pondok Pesantren Takwinul Muballighin, Condongcatur, Angkatan IX tahun 2018, ini tidak lupa terus menyemangati anak-anak dhuafa serta para janda lansia.
“Adek-adekku semua. Tetap semangat belajar dan jangan pernah menyerah dengan keadaan. Kalian semua berharga dan punya masa depan yang baik, insyaAllah. Untuk ibu-ibu para janda lansia yang kami hormati, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kekuatan. Bingkisan sembako yang kami berikan mungkin tidak seberapa, namun semoga bisa bermanfaat dan membawa keberkahan,” ucap laki-laki kelahiran Ciamis itu.
Lulusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Masjid Syuhada Yogyakarta tersebut memohon maaf apabila dalam penyambutan maupun hidangan masih sangatlah sederhana.
“Semoga tidak mengurangi rasa kebersamaan kita di bulan yang mulia ini. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua,” tutupnya.
Selain sejumlah anak-anak dhuafa dan janda lansia, Cahaya Ramadhan Pesantren Al-Mubin dihadiri pula sebagian jamaah Masjid Ali Abdul Wahab. Secara geografis, letak Pesantren Al-Mubin dan Masjid Ali Abdul Wahab memang berdampingan.
Sementara pengurus lembaga yang menaungi Pesantren Al-Mubin, yakni Yayasan Amal Usaha Muslim Yogyakarta (YAUMY), diwakili Ustaz Nashrullah Setiawan.
“YAUMY mengadakan kegiatan sosial, memberikan santunan kepada sejumlah anak yatim dan para janda tua dengan tujuan mengikuti perintah Allah agar saling berbagi; agar mereka sedikit senang menerimanya,” kata Ustaz Wawan.
Kebersatuan Umat
Dalam sesi Kajian Ramadhan, Ustaz Ikhsan Pujianto, menuturkan pentingnya kesungguhan dalam bertakwa dan kebersatuan umat. Ia menjelaskan seruan Allah SWT kepada orang-orang yang beriman untuk bertakwa dengan sebena-benar takwa dan terus berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan keimanan dan keislamannya sampai ajal menjemput.
“Ada ayat Allah secara kauniah yang ada di sekitar kita. Misalnya, pohon pisang. Ia memiliki niat yang kuat dan semangat yang hebat serta berprinsip untuk tetap hidup sebelum berbunga dan menghasilkan buah. Apabila pohon pisang sebelum berbunga atau berbuah kita potong batangnya maka ia akan tumbuh tunasnya kembali. Bila ia sudah menghasilkan buah kemudian kita potong batangnya maka ia akan mati. Semangat pohon pisang ini bisa kita ambil pelajaran agar kita senantiasa berusaha mempertahankan iman dan Islam sampai ajal datang,” terangnya.
Allah SWT, lanjutnya, juga memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh kepada tali agama-Nya dan bersatu; tidak bercerai berai. Ia mengutip hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim, “Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan. Sebagian menguatkan sebagian yang lain.”
“Kita sebagai orang yang beriman harus saling menguatkan walaupun berbeda latar belakang kemudian profesi, suku, tetapi tetap saling menguatkan, melengkapi, membantu dan saling bekerja sama, sehingga terbentuklah bangunan Islam yang kuat dan kokoh,” tandasnya.
Ia mencontohkan kedua tangan yang selalu bekerja sama dan tidak memiliki sifat iri walau memiliki tugas yang berbeda. Umat Islam tidak diperbolehkan pula seperti kedua telinga yang walaupun jaraknya dekat, tetapi tidak pernah bertemu.
“Orang beriman, baik dekat maupun jauh harus berusaha saling mengunjungi,” tutup Ustaz Ikhsan.
