Al-Hujurat, Sang Kompas Moral Sosial :

Al-Hujurat, Sang Kompas Moral Sosial

/ Inspirasi

Pilar-pilar etika sosial qurani menjadi kunci terwujudnya masyarakat yang harmonis.


Muhyidin
Pengajar pada Program Pascasarjana IAINU Kebumen
Alumnus Doktoral Kependidikan Islam UIN Sunan Kalijaga

 

Bangsa Indonesia hari ini sedang mengalami krisis moral sosial yang akut. Kehidupan sosial semakin kehilangan harmoni. Konflik horizontal, perundungan, penyebaran hoaks, caci maki di media sosial, hingga rasisme sudah menjadi pemandangan umum.

Ironisnya, sebagian besar pelakunya adalah umat Islam. Padahal, Islam adalah agama kedamaian yang dengannya Rasulullah Muhammad SAW diutus sebagai rahmatan lilalamin.

Melalui Rasulullah SAW, Allah SWT telah mengirimkan satu surah khusus yang sering disebut ‘Surah Etika Sosial’. Bila surah tersebut dibedah, akan dijumpai pilar-pilar etika sosial yang menjadi kunci terwujudnya masyarakat yang harmonis. Dialah Surah Al-Hujurat.

Ada empat pilar penting yang terkandung dalam Surah Al-Hujurat, yaitu filter informasi, persaudaraan, larangan perilaku agresif, dan kesetaraan. Mari kita membedahnya, satu per satu.

Pilar pertama, filter informasi. Kedamaian sering kali hancur karena berita bohong (hoaks). Amat banyak contoh tentang bagaimana pertikaian antarindividu atau kelompok dipicu oleh hoaks yang sengaja diproduksi untuk memecah belah.

Karena itu, Allah SWT berfirman dalam ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohanmu yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Allah SWT melarang kita langsung percaya pada setiap informasi. Artinya, kita harus bersikap skeptis terhadap setiap berita, terutama berita tentang kejelekan orang. Sebelum menyebarkan atau mengomentari suatu kabar, lakukanlah verifikasi (tabayyun). Jangan sampai kita ikut menyebarkan hoaks yang dapat menghancurkan nama baik orang lain.

Pilar kedua, persaudaraan. Gesekan dalam pergaulan sosial itu manusiawi, namun yang terpenting adalah bagaimana kita meresponsnya. Allah SWT menegaskannya dalam ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Jika ada dua kubu atau tetangga yang berkonflik, tugas kita adalah mendamaikan keduanya dengan menjadi mediator yang adil; bukan justru mengomporinya dengan bahan bakar yang memperbesar api. Persatuan umat harus berada di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Sebab, sesama Muslim sesungguhnya bersaudara. Alangkah sedihnya Rasulullah SAW bila umatnya tidak rukun dan saling bermusuhan.

Perilaku Agresif yang Dilarang

Pilar penting ketiga yang terkandung dalam Surah Al-Hujurat adalah larangan perilaku agresif. Pada pilar ketiga tersebut, Allah SWT secara spesifik membedah perilaku-perilaku memusuhi (aggression) yang merusak harmoni.

Ada enam perilaku agresif yang dilarang secara tegas oleh Allah SWT. Pertama, merendahkan orang lain. Karena, bisa jadi kedudukan orang yang direndahkan itu di sisi Allah SWT, lebih mulia.

Sentilan keras Allah SWT termaktub dalam ayat 11, “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, sebab boleh jadi yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok.”

Kedua, saling mencela (talamuz). Masih dalam ayat yang sama, Allah menegaskan, “Janganlah kamu saling mencela.” Lazimnya saudara, kita tidak boleh saling menghina atau saling menjatuhkan.

Perilaku ketiga yang dilarang adalah tanabuz, yaitu memberi label, panggilan, atau julukan negatif. Praktik seperti ini biasanya terjadi sebagai bentuk ketidaksukaan atau ekspresi ejekan kepada orang lain.

Allah melarangnya dalam ayat 11, “Janganlah kamu saling memanggil dengan julukan yang buruk.” Contoh nyata dalam kehidupan sosial kita adalah panggilan ‘kecebong’ dan ‘kampret’ yang sengaja diciptakan sebagai alat pemecah belah.

Keempat, berprasangka buruk. Dalam ayat 12, Allah SWT menegaskan, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”

Lihatlah. Bahkan keburukan hati kita yang belum mewujud tindakan pun sudah dilarang. Kita dilarang bersuuzon kepada orang lain. Sebab, prasangka buruk dapat menghancurkan rasa saling percaya dan menumbuhkan sikap saling curiga.

Perilaku kelima yang dilarang adalah mencari-cari kesalahan orang (tajassus). Allah SWT menyatakan dalam ayat 12, “Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain.”

Tajassus adalah kelanjutan dari suuzon, di mana seseorang mulai mencari-cari aib dan mengulik privasi orang lain. Di era digital, perilaku itu mirip dengan cyberstalking, yakni sengaja mengorek masa lalu seseorang untuk menjatuhkannya.

Keenam, gibah. Dalam ayat yang sama, Allah SWT menegaskan, “Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.”

Ayat ini menyamakan perbuatan menggunjing dengan memakan bangkai saudara sendiri, yang sudah barang tentu menjijikkan.

Ada sebuah riwayat yang menjadi asbabun nuzul larangan gibah. Diriwayatkan bahwa dalam sebuah perjalanan, Salman Al-Farisi RA kelelahan lalu tertidur dan mendengkur. Melihat hal itu, dua orang sahabat lain berbisik-bisik dan menggunjingnya.

Mereka berkata, “Salman ini tahunya cuma makan dan tidur saja; tidak bisa melakukan apa-apa.”

Setelah Salman bangun, kedua orang itu menyuruhnya menemui Rasulullah SAW untuk meminta sisa lauk atau makanan.

Ketika Salman menyampaikan maksud tersebut, Rasulullah mengatakan, “Katakan kepada kedua temanmu itu bahwa mereka berdua telah memakan lauk (daging).”

Mendengar laporan Salman, kedua orang itu membantahnya. Mereka segera menghadap Rasulullah SAW dan menyampaikan protes, “Wahai Rasulullah! Demi Allah, kami belum memakan makanan atau lauk apa pun hari ini!”

Rasulullah dengan tegas menjawab, “Kalian telah memakan daging saudaramu sendiri saat kalian menggunjingnya tadi.”

Rasulullah bahkan mengatakan bahwa beliau bisa melihat bekas daging Salman yang membusuk di sela-sela gigi mereka.

Pilar Kesetaraan

Setelah filter informasi, persaudaraan, dan larangan perilaku agresif, pilar penting keempat yang terkandung dalam Surah Al-Hujurat, yakni kesetaraan.

Pilar terakhir ini pada dasarnya adalah prinsip menghormati keberagaman. Konflik sering kali lahir dari rasa sombong, karena merasa bahwa suku, kelompok, status sosial, kekayaan, atau jabatannya lebih tinggi dari orang lain.

Allah SWT mematahkan kesombongan tersebut dalam ayat 13, “Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

Ayat ini menegaskan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT. Tidak ada kemuliaan di sisi-Nya dikarenakan keistimewaan suku bangsa atau warna kulit. Tidak juga karena kekayaan, jabatan, atau status sosial.

Di hadapan Allah SWT, semua manusia sama. Hal yang membedakan hanyalah kualitas ketakwaan mereka. Oleh karenanya, tidaklah layak bagi kita untuk bersikap sombong; merasa lebih mulia dari orang lain.

Dalam sebuah hadits ditegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah memandang hati dan amalan kalian” (HR. Muslim No. 2564)

Dalam sejarah, kita menyaksikan penunjukan Bilal bin Rabah RA sebagai muazin oleh Rasulullah SAW. Padahal, Bilal tidak memiliki status sosial tinggi. Ia hanyalah seorang bekas budak. Dengan menunjuknya, Rasulullah SAW ingin menjadikannya sebagai simbol kesetaraan.

Masyarakat yang harmonis tidak tercipta secara kebetulan. Begitu pun kesatuan umat tidak terbangun tanpa moral sosial yang bersumber dari nilai-nilai Al-Quran.

Allah SWT telah memberikan kompas moral sosial dalam Surah Al-Hujurat. Sayangnya, kita sering kali lupa membawa kompas tersebut, sehingga perilaku sosial kita tidak sesuai dengan petunjuk-Nya.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik