Disiplin Menahan Diri
/ Inspirasi
Keberhasilan bisnis, salah satunya ditentukan oleh keberanian para pelakunya untuk tidak berbuat hal berlebihan.
Yatmin
Inisiator Kelompok Usaha Umat Al-Amin
Sambisari-Purwomartani
Saya terus mengingatnya. Ketika itu, hari masih pagi. Usia saya pun, anak-anak. Di pawon, sembari mengeluar-masukkan kayu bakar perapian agar bara tetap menyala, Bapak memberi ular-ular sederhana tentang cara ia berjualan. Bapak memang seorang bakul yang berjualan apa saja, untuk bertahan hidup dan menafkahi keluarga.
“Le, yen dodolane durung kepayon, Bapak ora jajan,” ucapnya dengan nada datar tapi meyakinkan.
Bapak mengajari saya untuk tidak jajan ketika dagangan belum laku. Jadi saat berjualan, dagangan belum juga laku, meski mungkin perut telah keroncongan minta diisi, atau tergiur pada aneka jajanan yang ada, Bapak akan terus berjualan, hingga bertemu pembeli pertama.
Jajan, dalam pemahaman sederhana, adalah perilaku wajar. Toh banyak jajanan berharga murah dan mengenyangkan. Tapi bagi Bapak, kewajaran itu tidak lantas dibiasakan tanpa prinsip yang kukuh, yakni tentang laku atau belumnya dagangan yang ia jajakan.
“Yen dagangane wis payu 10 iji, mengko sing tak enggo jajan saka bathi sak barang,” nasihat Bapak berlanjut.
Maksudnya, bila pun dagangan Bapak telah laris manis, ia hanya akan mengalokasikan 10 persen dari total penjualan yang didapatkan. Sisanya, akan ia tabung demi kebutuhan keluarga dan masa depan anak-anaknya.
Tentu saja saya kurang begitu paham pada apa yang diucapkan Bapak ketika itu. Namun seiring waktu, saya perlahan memahaminya. Terlebih, pilihan saya untuk menjadi wirausahawan mengharuskan saya untuk belajar banyak hal, termasuk prinsip-prinsip kedisiplinan diri.
Membiasakan diri untuk tidak jajan, sebelum dagangan laku, lantas hanya mengalokasikan 10 persen dari total hasil penjualan, bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya bersenyawa kuat (compound). Disebut bersenyawa karena manunggal dan terbentuk oleh gabungan berbagai unsur penyusunnya. Keduanya berkaitan, saling berpengaruh, dan bermuara pada tujuan mulia.
Menahan keinginan untuk jajan, tidak serta-merta menghilangkan hasrat jajan. Toh jajan dengan kehati-hatian tidak akan mengganggu neraca usaha secara signifikan. Kalkulasinya pun bisa sangat sederhana, tanpa perlu repot menganalisisnya. Namun, Bapak mengajari saya untuk mengelola keinginan dengan baik untuk tujuan yang lebih besar.
Sekadar membelanjakan 10 persen dari total penjualan bukan berarti tidak membutuhkan dan menginginkan banyak hal. Sebab, sisa 90 persen terlihat sangatlah besar dan sayang bila tidak digunakan untuk hal-hal yang memang dibutuhkan. Namun, Bapak mengajari saya untuk mengelola kebutuhan dan keinginan itu dengan tepat untuk orientasi yang lebih panjang.
Lebih dari semua ini, Bapak sebenarnya sedang mengajari saya untuk mampu disiplin dalam menahan diri. Menuruti keinginan tanpa disiplin menahan diri hanya akan mengacaukan tujuan dan jalan menuju ke sana. Pun bila keinginan yang dimaksudkan sekadar bertindak seperti ‘pada umumnya’.
Pagi itu, di depan tungku pawon yang membara, Bapak meyakinkan saya untuk tidak merendahkan diri dengan disiplin menahan diri. Martabat seseorang ditentukan oleh kemampuannya dalam mengelola keinginan dan kebutuhannya. Kemuliaan seseorang begitu dipengaruhi oleh kebiasaan hidupnya yang tidak berlebihan.
Bisnis, atau apa pun bidang kehidupan yang dijalani, ternyata juga sangat membutuhkan disiplin menahan diri. Meski tidak mudah, tapi dapat ditempuh. Meski sulit, namun dapat diraih. Sebab, masa depan seseorang ditentukan oleh apa-apa yang bisa ia kelola dengan baik saat ini.
