Kantong Kecil Kepedulian Besar
/ Inspirasi
Cantelan sayur menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat perkotaan.
Octo Noor Arafat
Kepala Satpol PP Kota Yogyakarta
“Bapak tahu sendiri, kan, bagaimana Kampung Tukangan beberapa puluh tahun lalu?”
Kalimat itu mengawali perjalanan kami menyusuri lorong-lorong kecil yang menyimpan banyak cerita. Dari kawasan Lempuyangan menuju Kleringan, kami melewati sebuah jalan sempit yang kini bernama Gang Hansip Karno Waluyo. Sebuah nama yang tidak sekadar menjadi penunjuk arah, tetapi juga pengingat atas jasa seorang petugas hansip yang menjadi martir ketika banjir melanda bantaran Sungai Code pada dekade 1980-an.
Waktu telah membawa banyak perubahan. Kampung Tukangan yang dahulu memiliki banyak cerita tentang dinamika kehidupan perkotaan, kini tampil dengan wajah yang lebih tertata. Rumah-rumah warga dihiasi tanaman hijau yang membuat suasana terasa sejuk. Berbagai pernak-pernik menghiasi sudut kampung, sepeda motor terparkir rapi di halaman rumah, dan beberapa warga asing tampak menikmati suasana di teras rumah yang telah berubah menjadi penginapan.
Namun, di balik perubahan wajah kampung tersebut, ada satu hal yang tetap bertahan, yakni semangat warga untuk saling menjaga.
Kami berbelok ke kiri dari gang utama, memasuki jalan kecil menuju makam. Di sepanjang pagar rumah warga, tampak puluhan kantong keresek bergantung rapi. Isinya beragam, mulai dari sayuran siap masak, singkong mentah, hingga beberapa sisir pisang. Saya mencoba menghitung jumlahnya, mungkin lebih dari 50 kantong tersedia pagi itu.
Pemandangan sederhana tersebut ternyata menyimpan cerita besar.
Itulah cantelan sayur, sebuah gerakan sosial warga Kampung Tukangan yang lahir dari kepedulian dan rasa kebersamaan.
Pak Ismu, salah satu tokoh penggerak Gerakan Kampung Panca Tertib Tukangan, menyambut kedatangan kami dengan antusias. Ia bercerita bahwa cantelan sayur bermula ketika pandemi Covid-19 melanda negeri ini beberapa tahun lalu. Saat banyak masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi dan keterbatasan memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga Tukangan memilih untuk menghadirkan solusi dari lingkungan mereka sendiri.
Mereka tidak menunggu bantuan datang. Mereka bergerak dengan apa yang mereka punya.
Awalnya, cantelan sayur hadir sebagai bentuk kepedulian untuk membantu warga yang membutuhkan. Melihat manfaatnya yang besar, warga kemudian sepakat untuk mempertahankan gerakan tersebut. Hingga kini, kegiatan itu rutin dilakukan setiap dua pekan sekali, setiap hari Minggu pukul 07.00 pagi.
Bagi warga Tukangan, cantelan sayur bukan hanya tentang membagikan makanan, tetapi cara sederhana untuk merawat hubungan sosial antarwarga.
Seorang bapak sepuh kemudian menghampiri pagar tempat sayuran digantung. Dengan perlahan tangannya mengambil sebuah kantong keresek berisi beberapa potong singkong berukuran kecil. Wajahnya tampak bahagia.
“Alhamdulillah, aku entuk telo,” katanya sambil tersenyum. (Alhamdulillah, saya mendapat singkong).
Kalimat sederhana itu menyimpan rasa syukur yang dalam. Bagi sebagian orang, mungkin hanya sebungkus singkong kecil. Namun bagi seseorang yang membutuhkan, pemberian tersebut menjadi bukti bahwa masih ada perhatian dan kepedulian dari lingkungan sekitarnya.
Pak Ismu kemudian melanjutkan kisah tentang asal-usul singkong. Ternyata, pemberian ini berasal dari seorang warga lanjut usia yang juga ingin ikut berbagi meskipun hidup dalam keterbatasan.
“Berbagi itu membahagiakan. Yang menerima bahagia, yang memberi juga bahagia. Semoga menjadi berkah,” begitu pesan perempuan sepuh tersebut ketika menitipkan singkongnya untuk cantelan sayur.
Sebuah kisah yang menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah pemberian kecil yang dilakukan dengan ketulusan justru mampu menghadirkan kebahagiaan yang besar.
Saya pun sempat bertanya kepada kelompok ibu-ibu yang menjadi motor penggerak kegiatan cantelan sayur. Apakah tidak merasa rugi setiap dua pekan harus berbelanja sayuran untuk dibagikan?
Mereka menjawab dengan senyum.
“Kalau dihitung nominal yang masuk lewat kotak sukarela dengan uang yang dipakai belanja, ya jelas nombok, Pak. Tapi tidak apa-apa. Ada donatur, meskipun tidak banyak, tetapi insya Allah cukup agar gerakan ini terus berjalan. Yang penting warga ceria dan kami juga bahagia.”
Jawaban demikian menunjukkan bahwa tujuan utama gerakan ini bukanlah keuntungan materi. Ada nilai yang jauh lebih besar, yaitu kepuasan batin ketika mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Ketika Gotong Royong Menjadi Napas Kehidupan Kampung
Apa yang dilakukan warga Tukangan sesungguhnya merupakan gambaran nyata dari semangat Segoro Amarto (Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyakarto). Sebuah nilai yang mengajarkan bahwa kemajuan Yogyakarta tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui kekuatan masyarakat yang saling peduli dan bergerak bersama.
Cantelan sayur menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat perkotaan. Warga tidak menunggu seseorang datang menyelesaikan masalah, tetapi mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.
Ada yang menyumbangkan sayuran, ada yang mengatur tempat, ada yang menjaga keberlangsungan kegiatan, dan ada yang memastikan setiap warga dapat merasakan manfaatnya.
Di dalam gerakan sederhana ini terdapat nilai kemandirian. Warga Tukangan menunjukkan bahwa masyarakat mampu menciptakan solusi dari lingkungan sendiri dengan memanfaatkan potensi yang ada.
Ada pula nilai kedisiplinan. Kebaikan tidak berhenti sebagai niat, tetapi diwujudkan melalui kegiatan rutin yang terus dijaga. Setiap dua pekan sekali warga hadir dengan komitmen yang sama untuk merawat tradisi berbagi.
Nilai kepedulian juga menjadi ruh utama cantelan sayur. Setiap kantong yang tergantung di pagar bukan hanya berisi bahan makanan, tetapi membawa pesan bahwa tidak ada warga yang benar-benar berjalan sendiri; selalu ada tangan yang peduli dan lingkungan yang memperhatikan.
Hal yang paling terasa adalah nilai kebersamaan. Dalam cantelan sayur tidak ada sekat antara pemberi dan penerima. Hari ini seseorang mungkin mengambil sayuran dari pagar, tetapi suatu saat ia bisa menjadi orang yang ikut menggantungkan pemberian bagi tetangganya.
Di Kampung Tukangan, pagar yang biasanya menjadi batas antara satu rumah dengan rumah lainnya justru berubah menjadi jembatan yang menghubungkan hati warga.
Sebuah kantong keresek sederhana mengajarkan bahwa membangun kota tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kemajuan dapat lahir dari tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama.
Karena, Yogyakarta bukan hanya tentang bangunan, jalan, dan perkembangan zaman. Yogyakarta juga tentang warganya yang masih menjaga rasa peduli, gotong royong, dan kebersamaan.
Di antara pagar-pagar rumah Kampung Tukangan, semangat Segoro Amarto terus tumbuh. Mandiri dalam bergerak, disiplin dalam menjaga kebaikan, peduli terhadap sesama, dan bersama-sama membangun kehidupan yang lebih baik.
