Kemandirian Ekonomi Berbasis Nilai Keagamaan :

Kemandirian Ekonomi Berbasis Nilai Keagamaan

Penyuluh agama seyogianya hadir sebagai pendamping sosial yang mampu memberikan solusi atas persoalan nyata masyarakat.


Jamilludin
Penyuluh Agama Islam
Kapanewon Sedayu

 

Beberapa waktu lalu, tepatnya Kamis (21/5/2026), saya berkunjung ke Padukuhan Kalakan, Kalurahan Argorejo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul. Saya berkegiatan melakukan penyuluhan rutin kepada kelompok sasaran ketugasan saya sebagi Penyuluh Agama Islam.

Tidak terasa, kegiatan serupa ini telah berjalan selama kurang lebih dua tahun. Sebentuk nyata sinergi antara penyuluh agama dan pendamping sosial masyarakat.

Penyuluhan terlaksana melalui kolaborasi penyuluh bersama pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kapanewon Sedayu, Kristiana Desi. Ia secara konsisten mendampingi jamaah dalam penguatan sosial dan spiritual masyarakat.

Dalam sambutannya, Kristiana Desi menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin baik selama ini. Menurutnya, kehadiran penyuluh agama di tengah masyarakat mampu memberikan semangat baru bagi jamaah untuk memperdalam ilmu agama, sekaligus membuka wawasan mengenai kehidupan yang lebih mandiri dan produktif.

Ia berpandangan, kolaborasi antara penyuluh dengan pendamping PKH sangatlah positif. Sebab, jamaah tidak hanya mendapatkan penguatan keagamaan, tetapi juga motivasi untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas hidup.

Pada kesempatan tersebut, saya berupaya menggelorakan semangat untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Tema yang saya tuturkan perihal ‘Meraih Kemandirian Ekonomi’. Saya tegaskan bahwa ajaran agama Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga mendorong umatnya agar mampu hidup mandiri, bekerja keras, dan memiliki semangat berusaha.

Kemandirian ekonomi merupakan bagian penting dalam menjaga kehormatan dan kesejahteraan keluarga. Saya mengajak jamaah untuk mulai memanfaatkan potensi yang dimiliki, baik melalui usaha kecil, keterampilan rumah tangga, maupun pengelolaan keuangan keluarga secara bijak.

Agama mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan ikhtiar. Menjadi pribadi yang mandiri secara ekonomi adalah bagian dari upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.

Pendamping Sosial

Suasana penyuluhan berlangsung hangat dan interaktif. Jamaah tampak antusias mengikuti materi dan berdiskusi mengenai tantangan ekonomi keluarga di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Salah satu jamaah mengaku bersyukur atas adanya kegiatan rutin penyuluhan ini. Ia merasa materi yang disampaikan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan memberikan motivasi untuk lebih semangat dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Ia berpendapat, materi dari penyuluh agama sangat bermanfaat. Jamaah menjadi lebih bersemangat untuk belajar mandiri dan tidak mudah menyerah menghadapi keadaan ekonomi.

Kegiatan penyuluhan yang dilakukan di tengah masyarakat seperti ini menunjukkan bahwa peran penyuluh agama saat ini semakin luas dan strategis. Penyuluh agama bukan hanya menyampaikan ceramah keagamaan, tetapi juga hadir sebagai pendamping sosial yang mampu memberikan solusi atas persoalan nyata masyarakat, termasuk persoalan ekonomi.

Di tengah tantangan ekonomi yang dirasakan banyak keluarga, pendekatan dakwah yang menyentuh aspek pemberdayaan menjadi sangat penting. Masyarakat membutuhkan motivasi, pendampingan, dan dorongan moral agar memiliki kepercayaan diri untuk bangkit dan berkembang.

Kolaborasi antara penyuluh agama dan pendamping PKH juga menjadi contoh baik bagaimana program sosial dan pembinaan keagamaan dapat berjalan beriringan. Ketika nilai agama dipadukan dengan semangat pemberdayaan maka akan lahir masyarakat yang tidak hanya religius, tetapi juga mandiri, produktif, dan memiliki daya tahan ekonomi yang kuat.

Penyuluhan seperti ini sebentuk dakwah yang membumi, dekat dengan kebutuhan masyarakat, serta mampu menghadirkan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik