Ketua Panitia Ramadhan 1447 H Masjid Ali Abdul Wahab Sambisari, Muhyidin (berdiri), tengah memberikan sambutan. (Arif Giyanto)
Menjahit Masjid Karib Mustadhafin Bermula Ramadhan 1447 H : Ketua Panitia Ramadhan 1447 H Masjid Ali Abdul Wahab Sambisari, Muhyidin (berdiri), tengah memberikan sambutan. (Arif Giyanto)
Ketua Panitia Ramadhan 1447 H Masjid Ali Abdul Wahab Sambisari, Muhyidin (berdiri), tengah memberikan sambutan. (Arif Giyanto)

Menjahit Masjid Karib Mustadhafin Bermula Ramadhan 1447 H

/ Jogjawarta

Eksistensi masjid, salah satunya diukur dari penunaian kewajibannya atas kaum lemah.


SAMBISARI, Purwomartani | Ramadhan 1447 H menjadi awal dari banyak hal baik bagi kaum Muslimin. Peningkatan keilmuan, ritual ibadah, hingga sumbangsih pada persoalan sosial-ekonomi yang bertebaran di sekitar, menjadi pilihan strategis, demi ridha Tuhan Yang Mahakuasa.

Permulaan hal baik dilakukan pula oleh Masjid Ali Abdul Wahab, Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman. Seraya Pengajian Nuzulul Quran, digelar pula Buka Bersama Anak Yatim-Dhuafa, pada Minggu (8/3/2026) bertema ‘Menebar Kebaikan, Meraih Kemuliaan’. Ratusan hadirin memadati areal masjid untuk bermunajat dalam tahapan acara yang khusyuk dan khidmat.

“Bulan suci Ramadhan menjadi momentum strategis untuk memulai hal-hal baik. Tahun ini, kami menginisiasi program berbagi teruntuk anak-anak yatim dan kalangan dhuafa. Program yang menegaskan peran masjid bukan hanya sebagai tempat jamaah beribadah ritual, tetapi juga muamalah,” ujar Ketua Panitia Ramadhan 1447 H Masjid Ali Abdul Wahab, Muhyidin, kepada Jogja Daily.

Dirancang dan digondok jauh sebelum bulan Ramadhan, program tersebut lantas mulai digalang menjelang dan saat memasuki bulan Ramadhan. Sejumlah pihak berkontribusi pada kelancaran acara, mulai dari jamaah masjid hingga siapa pun yang hendak berkontribusi.

“Paket-paket santunan yang dibingkis penuh cinta dan kehati-hatian agar tidak terjebak pada sikap riya ini tentu saja tidak serta-merta dapat mengentaskan berbagai persoalan yang mendera saudara kita (anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa—red). Ikatan batin dan keberpihakan masjid akan keadaan merekalah tujuan pentingnya,” terang alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga tersebut.

Secara teknis, bingkisan senilai puluhan juta disiapkan terpisah menjadi dua jenis paket untuk yatim-piatu dan dhuafa. Satu paket dhuafa senilai Rp200 ribu, sedangkan satu paket yatim-piatu senilai Rp100 ribu.

“Dalam Islam, berjuang untuk kaum mustadhafin atau kalangan lemah adalan kewajiban. Anak-anak yatim-piatu dan dhuafa termasuk mustadhafin. Cara berjuangnya bisa bermacam, termasuk memberi bantuan ekonomi dan sosial. Semoga usai Ramadhan, ikatan masjid dengan saudara-saudara mustadhafin semakin kuat dengan program-program lanjutan yang semakin bermanfaat luas,” terang Ustaz Didin, begitu ia akrab disapa.

Pada kesempatan yang mulia itu, hadirin juga diajak untuk memberikan doa terbaik bagi kelancaran renovasi masjid. Selain itu, memakmurkan masjid dengan kegiatan-kegiatan yang berdampak positif, bukan hanya bagi jamaah, tapi juga masyarakat sekitar.

“Bagi para penyantun, semoga Allah memberikan balasan terbaik. Bagi hadirin penerima santunan, semoga dapat memanfaatkannya dengan baik. Bagi semua pihak yang telah bersumbangsih pada kegiatan ini, semoga mendapatkan limpahan keberkahan,” pungkasnya.

Muslim Tidak Individualis

Sementara itu, penceramah Nuzulul Quran, Yayan Suryana, mengetengahkan pemahaman akan Kitab Suci Al-Quran. Tidak sekadar dibaca, Al-Quran adalah petunjuk bagi kehidupan manusia. Untuk itulah, begitu penting memahami Al-Quran dengan keilmuan yang memadai.

“Ketika bulan Ramadhan, tilawah dan tadarus yang sering diadakan banyak masjid sangatlah baik. Upaya untuk khatam Al-Quran bahkan tidak hanya sekali tentu saja baik. Alangkah lebih baik, bila kemudian Al-Quran juga di-tadaburi. Direnungi, dihayati, dan dipahami agar mendapatkan pelajaran dan hikmah,” jelas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga itu.

Dengan begitu, sambungnya, umat Islam akan menjadi umat yang tidak individualis. Kaum Muslimin memedulikan keadaan sekitarnya bahkan menjadi bagian dari solusi. Sebab, Al-Quran adalah petunjuk jalannya kehidupan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga kemanfaatan bagi orang lain.

“Dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan dan Peringatan Nuzulul Quran, semoga menjadikan kita pribadi yang Qurani. Pribadi yang bertanggung jawab pada kepentingan besar. Misalnya, kita peduli pada lingkungan dengan sangat berhati-hati pada kegiatan rumah tangga kita yang sering kali menyumbang sampah begitu besar. Atau sikap-sikap sosial lainnya,” kata Ustaz Yayan.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik