Tahun Baru 1448 H, Masjid Ali Abdul Wahab Purwomartani Usung ‘Masjid Madani’
/ Jogjawarta
Bukan hanya tempat ibadah ritual, masjid juga pusat pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan umat.
PURWOMARTANI, Kalasan | Pada penghujung tahun 1447 H, tepatnya Senin malam (15/6/2026), Masjid Ali Abdul Wahab Purwomartani, Kalasan, Sleman, menggelar Pengajian bertema ‘Memaknai Tahun Baru Hijriyah untuk Hidup yang Lebih Berkah’.
Hadir sebagai penceramah, Ust. Ali Muttaqin, mengajak para hadirin untuk terus berkomitmen, berjuang memakmurkan masjid. Pengasuh Rumah Tahfidz Roudhotul Qur’an Purwomartani tersebut menandaskan bahwa masjid dapat menjadi wadah keilmuan hingga memberi kemanfaatan lebih luas.
Pada momentum pergantian tahun baru Islam itu, ia juga menyeru pentingnya kesungguhan dalam mengkaji Al-Quran. Tidak hanya perlu dibaca, Kitab Suci berisi firman Allah SWT ini wajib dipelajari terus-menerus sebagai pedoman kehidupan.
“Mengkaji Al-Quran memang tidak mudah. Apalagi hanya membaca terjemahannya. Kitab Suci Al-Quran mengandung nilai-nilai luhur yang bisa dipahami, bila dikaji berulang-ulang. Mangga sami ngaji Quran dhateng masjid (Mari bersama-sama mengaji Al-Quran di masjid),” ucap Ust. Ali.
Ngaji Al-Quran, lanjutnya, akan lebih baik bila bermula dari usia dini. Anak-anak diperkenalkan kebiasaan mengaji Kitab Suci berikut khazanah ilmu alatnya. Anak-anak kemudian mampu melafalkan, memahami tata bahasa, hingga menggali makna ayat secara mendalam.
Anak-anak kemudian dibekali ilmu tajwid dan tahsin, yakni ilmu dasar untuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Ust. Ali menggarisbawahi pentingnya hal ini, sebab ketika seseorang salah pelafalan dapat mengubah makna ayat-ayat Al-Quran.
Lebih lanjut, bila semua memungkinkan, beberapa ilmu alat pendukung dapat diajarkan pula, di antaranya nahwu, sharaf, balaghah, lughah dan isytiqaq, bahasa Arab berikut jurumiyah, imriti, dan alfiyah Ibnu Malik.
Dalam kesempatan mulia tersebut, Ust. Ali juga mengajak jamaah untuk mengenang perjuangan hijrah Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat. Sebuah perjuangan berat yang harus ditempuh, demi kehidupan yang lebih baik.
“Rasulullah SAW dan para sahabat pergi berhijrah dari Makkah ke Madinah, meninggalkan semua hartanya. Namun, karena ketaatan itu, Allah SWT menjamin hidup mereka setelah hijrah. Jadi, jangan pernah ragu pada rezeki Allah SWT bila memang waktunya berhijrah,” terang pengajar SD Muhammadiyah Kadisoka ini.
Maksud dari hijrah, sambungnya, bisa bermacam; asalkan seseorang berpindah dari satu tempat atau keadaan menuju tempat atau keadaan yang lebih baik supaya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT semakin kuat.
Serah Terima Kepengurusan Takmir
Usai digelar pengajian, dilaksanakan serah terima estafet kepengurusan Takmir Masjid Ali Abdul Wahab Purwomartani. Di samping menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada kepengurusan sebelumnya, Ketua Takmir periode 1448-1451 H, Muhyidin, mengajak kepada jamaah untuk bahu-membahu memakmurkan masjid.
“Masjid tidak hanya tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat peradaban, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan begitu, masjid bersumbangsih pada terwujudnya umat dan masyarakat yang beradab, berilmu, serta mandiri,” tutur Alumnus Doktoral Kependidikan Islam UIN Sunan Kalijaga itu.
Ust. Didin, begitu ia akrab disapa, menjelaskan bahwa masjid bisa menjadi pusat pendidikan dan peradaban, dengan pengintegrasian iman, ilmu, dan amal. Bukan hanya itu. Masjid juga wajib ramah pemuda dan teknologi. Fasilitasi modern seperti akses internet, perpustakaan, dan literasi digital diharapkan menarik generasi muda.
“Hal yang tidak kalah penting, yakni manajemen strategis masjid. Pengelolaan masjid dengan manajemen modern dapat memaksimalkan dampak sosial dan ekonomi bagi jamaah dan masyarakat di sekitarnya,” katanya.
Ust. Didin melabeli model manajemen Masjid Ali Abdul Wahab Purwomartani sebagai manajemen ‘Masjid Madani’ yang diadaptasi dari konsep ‘Masyarakat Madani’.
“Secara filosofis dan historis, konsep Masyarakat Madani merujuk pada sejarah pembentukan peradaban ideal Nabi Muhammad SAW di Madinah serta konsep tamaddun atau masyarakat berperadaban dari cendekiawan Islam, Ibnu Khaldun,” ujarnya.
Dukungan dari semua pihak sangatlah dibutuhkan. Semua konsep ini kemudian operasional dan diimplementasikan dalam rupa program-program unggulan, baik yang telah berjalan reguler atau inovasi kelak di kemudian hari.
“Mari membuat berbagai Sunah Hasanah. Sebuah kebiasaan baru yang baik. Karena akan menjadi amal jariyah dengan pahala tak terputus bahkan saat kita telah meninggal dunia,” pungkas pencinta Timnas Sepak Bola Indonesia itu.
